Breadcrumb Abstract Shape
Breadcrumb Abstract Shape

Dekat dengan Situs Warisan Dunia, Siswa Belum Kenal Megalitik Behoa: Akademisi Untad Hadirkan Virtual Reality

Teknologi realitas virtual membuka cara baru mengenalkan peninggalan megalitik kepada generasi muda, sekaligus mendorong sekolah mengambil peran dalam menjaga warisan budaya Sulawesi Tengah.

POSO, SULAWESI TENGAH — Kedekatan geografis ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan pengetahuan sejarah. Di Lembah Behoa, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, sejumlah pelajar yang hidup di sekitar kawasan peninggalan megalitik justru belum mengenal secara memadai warisan budaya yang berada di lingkungan mereka sendiri. Kondisi tersebut terungkap dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan tim akademisi Universitas Tadulako di SMP Negeri SATAP Hanggira, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso, pada 21 s.d 22 Agustus 2026.

Persoalan ini menjadi perhatian serius karena kawasan megalitik Lore Lindu telah masuk dalam Daftar Tentatif Warisan Dunia UNESCO sejak 2024. Di tengah pengakuan terhadap nilai penting peninggalan bersejarah tersebut, tantangan justru muncul dari lingkungan terdekatnya: bagaimana memastikan generasi muda mengenal, memahami, dan memiliki kepedulian terhadap warisan budaya mereka sendiri. Menjawab tantangan itu, tim pengabdian Universitas Tadulako yang terdiri atas Nurgan Tadeko, Lukman, Muhammad Zaky, dan Idrus memperkenalkan pendekatan pembelajaran berbasis teknologi Virtual Reality (VR), yang memungkinkan siswa mengamati representasi tiga dimensi peninggalan megalitik secara imersif.

Melalui teknologi tersebut, siswa tidak sekadar mendengarkan penjelasan guru atau melihat gambar dalam buku pelajaran. Mereka dapat mengamati bentuk, posisi, dan karakteristik objek megalitik melalui lingkungan virtual, sekaligus mempelajari cerita sejarah serta pengetahuan masyarakat setempat yang berkaitan dengan peninggalan tersebut.

Ketika Warisan Budaya Dekat secara Geografis, tetapi Jauh dari Pengetahuan

Salah satu temuan penting dari kegiatan ini adalah masih terbatasnya pemahaman awal siswa mengenai peninggalan megalitik Behoa dan pengetahuan lokal yang menyertainya. Padahal, situs-situs tersebut bukan sekadar susunan batu peninggalan masa lampau. Di dalamnya tersimpan jejak sejarah, pengetahuan masyarakat, identitas budaya, serta nilai-nilai yang diwariskan lintas generasi. Persoalan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan situs bersejarah di sekitar lingkungan sekolah belum otomatis menjadikannya sebagai sumber pembelajaran yang dekat dengan kehidupan peserta didik.

Pembelajaran sejarah lokal karena itu membutuhkan pendekatan yang lebih kontekstual, menarik, dan mampu mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman nyata siswa. Tim akademisi Universitas Tadulako melihat teknologi VR sebagai salah satu alternatif untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Namun, teknologi bukanlah pengganti kunjungan langsung ke situs budaya. Penggunaan VR justru diarahkan sebagai sarana pengenalan awal yang dapat membangun rasa ingin tahu sebelum siswa melakukan pengamatan langsung terhadap peninggalan megalitik di lapangan.

Libatkan 31 Peserta, Siswa Diajak Menjadi Penjaga Warisan Budaya Kegiatan pengabdian ini melibatkan 36 peserta, terdiri atas 5 guru dan 31 siswa SMP Negeri SATAP Hanggira. Dalam pelaksanaannya, peserta memperoleh pengenalan sejarah lokal, demonstrasi penggunaan VR, pengamatan objek megalitik secara virtual, serta kesempatan berdiskusi dan merumuskan langkah tindak lanjut.

Pendekatan yang diterapkan tidak berhenti pada pengenalan perangkat teknologi. Siswa juga didorong memahami asal-usul objek, memeriksa sumber informasi, dan menyusun cara menyampaikan pengetahuan mengenai situs megalitik kepada orang lain. Melalui kegiatan tersebut, tim pengabdian merancang empat tindakan utama yang dapat dilanjutkan dalam pembelajaran, yakni mengamati, memeriksa, menceritakan, dan menjaga.

Pada tahap mengamati, siswa mempelajari karakteristik objek melalui VR dan dokumentasi lapangan. Pada tahap memeriksa, mereka diarahkan membandingkan informasi dengan sumber sejarah dan pengetahuan masyarakat lokal. Selanjutnya, siswa dilatih menyusun narasi singkat mengenai peninggalan megalitik yang dapat disampaikan melalui audio maupun video. Tahap terakhir menekankan pentingnya menjaga peninggalan sejarah, termasuk memahami etika berkunjung ke kawasan situs budaya. Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya ditempatkan sebagai penerima informasi, tetapi juga dipersiapkan menjadi generasi yang mampu menyampaikan kembali pengetahuan budaya kepada masyarakat.Akademisi Untad Dorong Pelestarian Budaya Melalui Pendidikan Digital

Lebih jauh, kegiatan ini menggarisbawahi pentingnya perubahan orientasi pendidikan sejarah lokal, dari pembelajaran yang hanya menekankan pengenalan objek menjadi pembelajaran yang mendorong keterlibatan aktif peserta didik. Warisan budaya tidak cukup hanya diperkenalkan sebagai peninggalan masa lampau. Generasi muda juga perlu memahami makna, nilai, dan tanggung jawab untuk menjaganya. Dalam rancangan tindak lanjut, siswa diarahkan menghasilkan narasi pendek berdurasi 60–90 detik mengenai objek megalitik, dilengkapi informasi sejarah atau budaya yang telah diperiksa bersama guru dan narasumber lokal.

Dari Ruang Kelas di Behoa, Menjaga Ingatan Budaya untuk Masa Depan

Kegiatan pengabdian Universitas Tadulako di SMP Negeri SATAP Hanggira memperlihatkan peluang pemanfaatan teknologi imersif dalam menjawab tantangan pendidikan dan pelestarian budaya di wilayah yang memiliki kekayaan sejarah. Di tengah semakin pesatnya perkembangan teknologi digital, sekolah dapat mengambil peran strategis sebagai ruang pertemuan antara inovasi teknologi, pengetahuan ilmiah, dan kearifan lokal. Kendati demikian, keberhasilan pelestarian budaya tidak cukup diukur dari kecanggihan perangkat yang digunakan atau tingginya respons positif peserta kegiatan. Keberlanjutan pembelajaran, keterlibatan masyarakat lokal, dan kesadaran generasi muda untuk menjaga peninggalan sejarah tetap menjadi faktor yang menentukan. Dari Lembah Behoa, pesan penting itu muncul: warisan budaya tidak hanya membutuhkan pengakuan dunia, tetapi juga generasi penerus yang mengenal, memahami, dan bersedia menjaganya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *